menumpuk kata

ini adalah sebuah cerita yang tak pernah jadi. saat pagi hadir seperti seribu pagi yang lain. di atas angkot 07 yang kini telah melaju kencang seperti kesetanan, setelah sebelumnya menjengkel para penumpang (termasuk aku, walau  coba ku pahami) dengan menunggu calon penumpang lain yang tak muncul-muncil. mungkin sang supir ingin menerbangkan kejengkelanya dengan ngebut seperti ini.

namun, seperti kata pepatah: pucuk dicinta, ulam pun tiba. sebuah telunjuk di arahkan ke jalan. sang sopir pun dengan pengalaman entah berapa tahun segera memarkirkan kendaraannya tepat di samping sang pemilik telujuk.

seperti saat ku ciumkan bibirku pada kebisuan.

ketika kau goda aku dalam diammu.

tanganmu penuh bercak tinta

(bersambug)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s