07

aku terbangun. sebagian jiwaku masih bergentayangan di alam mimpi. ku nyalakan mp3 player, Rock In 82-nya Edane menghentak kesadaranku. satu per satu jiwaku kembali ke tubuhku. jam telah menunjukkan pukul 8.30. sudah waktunya tuk masuk kantor. tapi, aku sengaja bersantai-santai menikmati pagi (yang sebenarnya sudah tak pagi lagi). mandi dengan perlahan, mengenakan pakaian dengan santainya.

 

Matahari sudah memanas ketika ku langkahkan kaki menuju tempat angkot 07 berada. angkot yang telah setia mengantarku setiap harinya.  Di sepanjang jalan mahasiswa-mahasiswa yang telah siap untuk menimba ilmu di bangku kuliah, berjalan dengan gagahnya. Entah akhir mereka seperti apa nantinya. Apakah akan sama dengan para pejabat saat ini. Apakah akan menjadi sampah masyarakat, akibat lowongan kerja yang tak lagi lowong. Tukang-tukang ojek menawarkan jasanya. Tapi, rupanya banyak yang tidak tertarik. Hanya beberapa mahasiswi yang kelihatan tertarik menggunakan jasanya.

 

Angkot 07 pun datang, aku mempercepat langkahku dengan sedikit berlari. Angkot 07 pun berhenti, mempersilahkanku untuk naik. Semenit kemudian, ketika angkotnya sudah berjalan, aku sedikit menyesal menaiki angkot ini. Kenapa tidak tunggu angkot 07 berikutnya saja. Yang membuatku menyesal adalah sosok seorang ibu berjilbab & berkerudung merah jambu. Yang seperti sedikit gila atau entahlah. Stres mungkin melihatkan keadaan dunia ini. Dia mengoceh entah kepada siapa. Sebuah hadits tentang menuntut ilmu dilafaskan dan diartikan, kemudian dia jelaskan. Dan diulang-ulang terus. Seorang yang sepertinya mahasiswi, merasa risih di samping ibu ini.

 

Angkot jalan dengan lambatnya, sambil berhenti-berhenti sejenak. Sang sopir melihat calon-calon penumpang dengan pandangan pengharapan. Aku yang tadinya menyesal, sekarang mulai bersimpati dengan ibu berkerudung merah jambu itu. Mungkin ibu ini sedang menjalankan kewajiban amar ma’rufnya. Hanya caranya yang agak sedikit aneh (menurutku). Kenapa ibu ini tak ajak diskusi saja gadis di sampingnya biar tak ngomong sendiri.

 

Setelah kecewa dengan para calon yang tak jadi penumpang, sang sopir pun menancap gasnya. Mungkin kesal. Si Ibu pun turun dengan sedikit kebingungan, sepertinya tempat tujuannya tak dia tahu pasti. Angkot 07 kembali melanjutkan perjalanan. Masih banyak tanda yang berbentuk tanya dalam kepalaku.

 

[bersambung]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s